travel umroh dan haji dan tour muslim yang halal

Alexandria dan Misteri Makam Alexander Agung

  Alexandria dan Misteri Makam Alexander Agung


Alexandria dan Makam

Umrah plus Mesir – Sahabat wisata muslim tentu tidak asing dengan nama Alexander the Great atau Alexander yang agung, bukan? Ya, dia adalah seorang penguasa sekaligus ahli perang yang hebat di zamannya. Jika sahabat mengunjungi Mesir, di negeri inilah letak makam dari tokoh besar ini. Menariknya, ada sebuah kisah seru yang melatarbelakangi penguburan Alexander di bumi Mesir ini. Ingin tahu ceritanya? Mari kita simak bersama.

Sejarah Alexandria


Sejarah mencatat, Alexander Agung lahir pada 20 Juni 356 SM. Putera pasangan suami-istri Raja Macedonia, Fillipus II dan Olympias, ini menggantikan kedudukan ayahnya pada tahun 336 SM. Tidak lama setelah naik tahta, ia menghadapi masalah besar ,yaitu pemberontakan Athena dan Thebes. Namun, pemberontakan itu berhasil ia padamkan dengan gemilang. Bahkan selanjutnya, ia melakukan ekspansi militer ke berbagai kawasan Persia, Mesir, dan India.

Ketika berada di Babilonia, Alexander Agung jatuh sakit dan akhirnya wafat pada tanggal 10 Juni 323 SM. Kala itu, usianya sekitar 33 tahun. Ia meninggalkan wilayah kekuasaan yang membentang luas di tiga benua, yaitu Eropa, Asia, dan Afrika. Sayangnya, ketiadaan ahli waris menyebabkan timbulnya perpecahan dan pertempuran di antara para jendral Alexander.

Pada saat itu, Aristander—penasihat spiritual utama Alexander—menyatakan bahwa negeri yang menjadi tempat Alexander dikebumikan akan bernasib baik. Ramalan ini kian memicu persaingan yang membara di antara para jendral. Sebelum meninggal, Alexander agung pernah berpesan agar jenazahnya dikebumikan di sebuah kuil dewa Amon Ra, diujung Oasis Siwa yang terletak di gurun pasir Mesir-Libya. Kuil itu pernah ia kunjungi pada tahun 331 SM setelah berhasil membebaskan Mesir dari tangan pasukan Persia. Konon, para pendeta kuil tersebut telah meramalkan pula kedatangan dan menyambutnya sebagai putra Ammon, sebuah pengakuan atas kewibawaannya.

Perdicas, seorang jendral yang sangat loyal terhadap ayah Alexander, Filippus II, dan menaruh perhatian besar terhadap ramalan Arsitander, menentang wasiat Alexander. Bukannya membawa jenazah Alexander ke Siwa, Perdicas justru memerintahkan supaya jenazah Alexander dibawa ke Macedonia untuk dikebumikan di Aegea, di lingkungan makam keluarga kekaisaran Macedonia.

Namun, pada saat iring-iringan jenazah itu tiba di Issum (kini Iskendrun, Turki) terjadilah sabotase tidak berdarah atas iring-iringan tersebut. Ketika itu Ptolomeus, sebagai penguasa Mesir, datang dengan pasukannya untuk mencegat iring-iringan tersebut.

Dalam bukunya yang berjudul Alexander the Great Mistery, T. Peter, seorang pakar sejarah Yunani, menjelaskan bahwa Ptolomeus kemudian memaksa iring-iringan tersebut beralih arah menuju ke selatan, yaitu Mesir. Meskipun sekilas tampak bahwa ia bermaksud memenuhi pesan pribadi Alexander, tetapi Ptoloemus sejatinya tidak ingin jenazah Alexander dikebumikan di Siwa. Ptolomeus ingin jenazah Alexander dikebumikan di Alexandria. Namun, karena mausoleum untuk sang raja belum dibangun di Alexandria, Ptoloemus kemudian mengebumikan jenazah sang kaisar selama beberapa tahun di Memphis, ibukota lama kerajaan Mesir.

Di Babilonia, Predicas mendengar kabar itu dan ia pun langsung bertolak ke Mesir bersama pasukannya untuk memberikan hukuman dan membawa kembali jenazah Alexander Agung. Namun di tengah perjalanan, ia dibunuh oleh beberapa perwiranya yang disuap oleh Ptoloemus. Sementara jendral-jendral yang lain tidak ada yang tergerak untuk memindahkan Jenazah Alexander dari Mesir. Pada saat mauseloum di Alexandria telah siap, jenazah Alexander pun dipindahkan ke kota itu dan dikebumikan disana.

Itulah kisah di balik pemakaman Alexander Agung di Sema (Alexandria-Mesir), bukan di Macedonia (Yunani). Di sisi lain, kota penuh pasir putih yang indah dan elok ini memang memiliki sejarah panjang. Menurut torehan sejarah, Alexandria adalah kota yang dibangun Alexander Agung, di mana penguasa penakluk tiga benua ini ingin mengabadikan penaklukannya pada tahun 332 SM, pada sebuah Megapolis baru yang ia bangun. Cikal bakal kota itu sendiri didirikan di desa Rakhotis.

Setelah sang pendiri kota ini berpulang, Ptolomeus I yang bergelar Soter, tampil sebagai penguasa baru yang menggantikan Alexander Agung. Ia pun memerintahkan seorang arsitek terkemuka Yunani, Dinocrates, untuk merancang secara cermat kota Alexandria baru. Kala itu, kota Alexandria dilengkapi dengan dua jalan raya mulus selebar seratus kaki. Pusat kota yang terletak di kawasan Brukhion ini dilengkapi dengan sederet kuil, gedung teater, gedung pemerintahan, istana kaisar, kebun binatang, museum, dan perpustakaan.

Selain itu, Alexandria juga diuntungkan dengan tumbangnya pusat kekuasaan di Phoenicia. Ditambah dengan tumbuhnya perdagangan dengan berbagai kawasan di Eropa, Alexandria berkembang dengan cepat menjadi kota Metropolis. Tidak heran bila pada masa itu banyak ilmuwan dan cendikiawan yang datang seperti Aristrachus, Archimedes, Hirophilus, dan Euclides. Kota ini juga menjadi pusat ilmu pengetahuan kaum Yahudi.

Posisi Alexandria yang strategis menjadikannya kota paling memikat di dunia. Selama tiga abad, kota ini meraih prestasi sebagai pusat kebudayaan terpenting di dunia. Alexandria bak rumah bagi beragam bangsa yang menganut berbagai agama dan pemikiran. Selain itu, kota ini menjadi pusat kekaisaran Yunani serta pusat perkembangan ilmu dan perdagangan. Tidak heran bila pada puncak keemasannya, para pakar matematika dan cendekiawan berdatangan ke kota itu, terutama untuk menikmati perpustakaan Alexandria.

Kemajuan yang dicapai Alexandria berakhir dengan runtuhnya kekuasaan dinasti Ptolomeus pada 305-30 SM. Meredupnya Alexandria ditandai dengan tragedi pembakaran perpustakaan Alexandria oleh pasukan Julius Caesar yang datang ke Mesir pada 48 SM. Ketika itu, pasukan Caesar berhadapan dengan pasukan Mesir dibawah kendali Achillas di pantai Alexandria. Perang besar pun tidak terelakan. Berdasarkan catatan Seneca, sejarawan yang andil dalam ekspedisinya, tidak kurang dari 400 ribu buku terbakar dalam tragedi tersebut. Belakangan, Caesar meminta maaf atas kejadian itu. Sebagai gantinya, Marcus Antonius yang datang setelah Caesar menghadiahkan sekitar 200.000 buku dari Roma kepada penguasa Alexandria, Cleopatra VII Philopator.

Pengaruh Romawi atas Alexandria kian menyurut pada 415 M. Dua abad kemudian, kota ini jatuh ke tangan pasukan Persia. Setelah beralih di bawah naungan kaum muslimin pada 21 H/642 M, Alexandria menjadi pusat perdagangan tekstil dan barang-barang mewah hingga saat ini.

Selamt menikmati perjalanan wisata ke mesir (Jng/RA)

» Thanks for reading Alexandria dan Misteri Makam Alexander Agung